Ya Rasul Salam Alaika

19.08 0
Barisan panjang tampak di depan area Raudah, mengantre dengan tertib. Mereka semua hendak berziarah ke maqam Nabi Muhammad SAW. Walaupun cukup panjang, tapi ternyata tak butuh waktu lama untuk bisa berada di depan pintu maqam yang terbuat dari jeruji besi berwarna keemasan. Mengapa bisa cepat? Karena para askar yang menjaga tak akan membiarkan seseorang berhenti terlalu lama di depan maqam. Sama seperti di bukit Uhud maupun maqam Baqi, setiap ada yang menengadahkan tangan di depan maqam, askar akan segera memperingatkannya.

Agak berdebar hatiku sesaat aku semakin mendekat ke pintu maqam. Tak henti bibir ini mengucapkan salam serta shalawat kepada Nabi Muhammad SAW. Manusia paling mulia yang pernah ada, bahkan orang-orang non muslim mengakui kemuliaannya. Seseorang yang bisa kita jadikan tauladan dalam segala aspek kehidupan. Beliau sukses memberi contoh bagaimana menjadi pemimpin yang benar, ahli diplomasi yang benar, panglima yang benar, pedagang dan cara bisnis yang benar, ayah yang benar, suami yang benar, kerabat yang benar, anak yang benar. Segalanya! Segala peran yang juga akan bisa kita alami, beliau sukses menjalaninya.
 
Bahkan tak cuma peran, tapi juga cara bersikap, cara menjalani roda kehidupan. Beliau tidak hanya berteori indah belaka, tapi langsung memberi contoh melalui pengalamannya sendiri. Kita bisa mengetahui bagaimana beliau bersikap saat tertindas, bagaimana bersikap saat kemenangan ditangan. Bagaimana saat fitnah menghujam, bagaimana saat pujian merayu. Bagaimana saat batu melayang dan kotoran ditumpahkan, bagaimana saat hadiah-hadiah dipersembahkan. Bagaimana saat terusir dari kampung halamannya, bagaimana saat menguasai segalanya. Bagaimana saat perang berkecamuk, bagaimana saat damai memeluk. Bagaimana saat penghianatan terungkap, bagaimana saat penyesalan terucap. Semua beliau contohkan. Nabi Muhammad adalah guru kita, teladan kita, panutan kita, idola kita. Tak hanya manusia, jin, malaikat, bahkan alam semesta pun berlomba-lomba memuliakannya. Namun begitu mulianya beliau, sehingga justru beliau paling tidak suka saat ada orang yang berdiri untuk menyambut kedatangannya. Indah, pribadi yang indah, ahlak yang indah. Dan makam orang mulia itu kini ada di hadapanku. Subhanallah...

Aku mengintip ke balik jeruji, gelap tak ada penerangan didalam, sehingga secara samar-samar aku hanya dapat melihat pusara Nabi dan kedua sahabatnya, yaitu Umar bin Khatab dan Abu Bakar as Shidiq. Hanya sebentar, karena aliran antrean harus terus berjalan.

Allahuma shali alla Muhammad,
Ya Rabbi shali allaihi washalim

Bersujud di Hijir Ismail

19.01 0
Sama seperti Hajar Aswad yang butuh perjuangan untuk menghampirinya, begitu pula dengan Hijir Ismail. Tak mudah untuk memasuki area ini karena ukurannya yang tidak besar menjadikan kita harus berdesak-desakkan dengan jamaah lain.
 
Mengapa bersusah-susah untuk masuk ke Hijir Ismail? Karena tempat ini juga termasuk tempat-tempat utama untuk berdoa (selain Multazam dan Maqam Ibrahim). Banyak riwayat yang menceritakan keistimewaannya.
 
Ada pengalaman unik saat aku dan istri berusaha masuk ke Hijir Ismail. Saat tubuh semakin terdesak, tiba-tiba ada orang yang merentangkan tangan, seolah-olah melindungi kami. Begitu terus hingga akhirnya kami berhasil masuk. Tak cukup sampai disitu, 'pengawalan' terus ia lakukan saat istriku sedang melakukan sholat. Sekedar info, sholat disini benar-benar jauh dari kondisi ideal. Jangankan untuk sujud dan ruku, untuk bisa berdiri sempurna saja sudah untung. Hal ini karena begitu berdesakkan dan banyak orang yang lalu lalang. Tanpa dijaga dari dua arah, rasanya memang sulit untuk bisa sujud dengan tenang karena khawatir kepala terinjak. Beruntung ada orang tadi. Entah siapa dan dari mana, yang jelas wajahnya sangat Indonesia.
 
Selesai istriku sholat, giliran aku yang sholat dan istriku yang akan menjaga. Tapi karena situasi yang semakin padat, aku menengok mencari tempat lain yang lebih lowong. Kalau tetap disitu rasanya mustahil untuk aku bisa sujud. Akhirnya terlihat ada tempat yang kosong, kami segera mundur beberapa langkah. Disini tempatku sholat lebih lapang dibanding tadi. Saat itulah kami tak melihat lagi orang yang tadi mengawal. Kemana? Mungkin sudah keluar lebih dulu. Entahlah.
 
Siapapun dia, terima kasih ya Allah. Hanya Engkaulah yang mampu menggerakkan para mahlukMu... 

Menuju Maha Cinta

Semesta pun Bertawaf

18.50 0
Masjidil Haram..

Masjid paling mulia di muka bumi…

Aku kembali kehilangan kata-kata untuk menjelaskan betapa bergemuruhnya dada ini saat memandang bangunan masjid dihadapan. Begitu pula dengan yang lain, karena hampir semua anggota rombongan tak ada yang berkata-kata kecuali ustad yang terus memberi bimbingan. Walaupun ini bukan kali pertama aku memandangnya, tetap saja aku tidak bisa menjelaskan dengan baik apa yang dirasakan saat kembali melihat masjidil Haram.

Beserta seluruh rombongan kami melangkah memasuki gerbang satu yang diberi nama gerbang King Abdul Aziz. Saat didalam aku sudah tidak sempat memperhatikan sekeliling lagi, aku terlalu berdebar saat memasuki masjid.

Ketika pintu masuk terlewati dan berjalan beberapa langkah di dalam masjid. Tampaklah dihadapan kami semua, bangunan berbentuk kubus, yang diselimuti oleh kain sutera hitam.

Suatu bangunan yang dibangun oleh Nabi Ibrahim bersama puteranya Nabi Ismail. Suatu bangunan yang menjadi “rumah” paling tua di muka bumi ini. Suatu bangunan yang memiliki enam sisi sehingga seolah menghadap ke segala arah, utara, selatan, timur, barat, atas dan bawah. Suatu bangunan yang tiada apapun didalamnya, hanya ada kekosongan.

Itulah Kabah.

Kita memang tidak menyembah kabah, tidak menyembah batu hitam, tidak menyembah bangunan, Kabah hanyalah arah, Kabah hanyalah petunjuk.

Kabah saat ini berada di hadapanku.

Mataku melihat pemandangan yang menakjubkan. Seolah suatu pertunjukan tentang bagaimana alam semesta bekerja. Sebagai pusat, di sekeliling kabah penuh dengan orang yang bertawaf. Berputar berlawanan dengan arah jarum jam. Bergelombang bagai pusaran air, teratur bagai orbit benda-benda angkasa pada matahari.

Inilah pertunjukan semesta!

Karena ternyata tawaf, atau gerakan berputar mengelilingi satu pusat ini juga dilakukan oleh semua mahluk, semua materi, segala hal penghuni alam semesta ini. Dari atom yang terkecil, hingga galaksi yang begitu luas. Semua terbukti melakukan tawaf, bergerak mengelilingi suatu inti.

Disini aku menyaksikan suatu pesan mengenai tauhid yang sangat jelas dari Sang Maha Pencipta, bahwa hanya ada satu pusat, hanya ada satu Tuhan, hanya ada satu Yang Maha Segalanya. Sementara yang lain hanyalah mahluk, hanyalah hamba, hanyalah ciptaan, hanyalah partikel-partikel yang terus bergerak mengelilingiNYA.

Malam itu, kami melaksanakan umrah.

Melebur bersama yang lain dalam kebersamaan. Tak ada lagi perbedaan warna kulit, jabatan, suku, golongan dan budaya. Semua menjadi satu dalam harmonisasi tawaf, semua menjadi satu dan berputar bersama mengelilingi pusat yang satu, semua menjadi satu dalam gelora cinta yang sama.

Allah adalah pusat segala hal, Allah adalah cinta yang satu, Allah adalah segalanya. Hatiku lirih berbisik -Terima kasih ya Allah, telah mengundang kami semua, dan mengijinkan kami melakukan thawaf bersama semesta-

Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadah) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia. -(QS. Ali Imran:96)

Menuju Maha Cinta

Maulid Nabi di Turki

04.39 0
Turki negeri yang pernah menjadi pusat pemerintahan Islam, khilafah yang kemudian diubah menjadi negeri sekuler, sesudah terjadinya kudeta yang dilancarkan oleh seorang opsir militer yaitu Kemal At-Taturk, yang kemudian menjadikan Turki sebagi sebuah republik sekuler.

Sekarang sesudah perubahan politik, dan Partai AKP yang dipimpin oleh Erdogan, Islam mulai menampakkan kembali cahayanya di Turki. Salah satunya saat sekarang, berlangsung peringatna maulud Nabi di seluruh negeri Turki. Tujuan mendidik masyarakat, agar rakyat mencintai Nabi Shallahu alaihi wassalam.

Peringatan maulud Nabi  di Turki merupakan pendidikan bagi masyarakat, agar mereka menjadikan Nabi Shallahu alaihi wassalam sebagai suri tauladan satu-satunya. Para ulama Turki bekerja sama dengan pemimpin setempat menyelenggarakan peringatan maulud Nabi, dan mengarahkan mashyarakat meneladani Nabi Shallahu alaihi wassalam.

Selama beberapa hari berlangsung merayakan hari besar Islam, perayaan peringatan hari kelahiran Nabi itu, benar-benar menjadi ajang syiar dan dakwah, yang tujuannya menghidupkan kembali ghirah masyarakat kembali kepada Islam, dan mencintai serta meneledani Nabi Muhammad Shallahu alaihi wasslama.

Perayaan kelahiran Nabi Shallahu alaihi wasslam itu baru berlangsung kemblai setelah 20 tahun. Perayaan kelahiran Nabi Shallahu alaihi wassalam itu, dipandang sebagai kesempatan lebih memahami Nabi Muhammad shallahu alaihi wassalam,dan memperkuat perasaan solidaritas, persaudaraan serta kesatuan dalam masyarakat Islam dalam menjunjung tinggi sunnah-sunnah Nabi.

Maulid Nabi di Arab Saudi

04.34 0
Prosesi peringatan Maulid Nabi SAW pernah diadakan secara meriah di kota Makkah bahkan sebelum peringatan tersebut diperkenalkan oleh Abu Said al-Qakburi, seorang gubernur Irbil, di Irak pada masa pemerintahan Sultan Salahuddin Al-Ayyubi (1138-1193).
 
Prosesi peringatan maulid Nabi Saw. di kota Makkah secara meriah yang terekam dengan baik dalam sebuah buku yang berjudul Messenger of Allah: Ash-Shofa` of Al-Qadhi ‘Iyadh yang ditulis oleh Aisyah Binti Abdurrahman Bewley dan dijadikan refrensi oleh Syekh Muhammad Hisyam Kabbani untuk bukunya yang berjudul Maulid dan Ziarah ke Makam Nabi terjadi pada abad ke-10 Masehi.
 
Di dalam buku tersebut dikatakan bahwa ada tiga catatan saksi mata terpercaya, yaitu sejarawan Ibnu Huhayrah, Ibnu Hajar Al-Haytsami dan An-Nahrawali yang menyatakan bahwa setiap tahun pada tanggal 12 Rabiul Awal, setelah shalat isya, empat qadhi kota Makkah yang mewakili keempat madzhab Sunni dan sekelompok besar masyarakat yang meliputi para fuqaha dan tokoh kota Makkah, para syekh, para guru dan murid Alwiyah, para pemimpin dan orang-orang yang terpelajar semua meninggalkan masjid dan berangkat bersama-sama untuk berkunjung ke tempat kelahiran Nabi Saw., sambil membaca dzikir dan tahlil (laa ilaaha Illallaah).
 
Rumah-rumah di sepanjang jalur perjalanan diterangi dengan lampu-lampu dan lilin-lilin besar. Sebagian besar orang berhamburan. Mereka mengenakan pakaian spesial dan membawa anak-anak bersama mereka. Setelah tiba di tempat kelahiran, sebuah khutbah disampaikan khusus memperingati kelahiran Nabi saw. yang menguraikan berbagai keajaiban yang terjadi pada hari peristiwa tersebut.

Setelah itu, do`a dibacakan untuk khalifah, amir kota Makkah dan qadhi Syafi`i dan semuanya berdo`a dengan kerendahan hati. Sesaat sebelum shalat Isya dilaksanakan, semua orang kembali dari tempat kelahiran Rasulullah Saw. ke Masjidil Haram, yang sudah hampir penuh sesak, dan semua duduk bershaf-shaf di bawah maqam Ibrahim. Di masjid, seorang khatib membacakan tahmid dan tahlil dan sekali lagi do`a untuk khalifah, amir Makkah dan qadhi dari mazhab Syafi`i. Setelah itu, adzan untuk shalat Isya dikumandangkan.Setelah shalat, kerumunan bubar.

Prosesi peringatan maulid Nabi SAW di kota Makkah tersebut kemudian tidak lagi diadakan sejak Abdul Aziz bin Abdurrahman as-Sa'ud atau dikenal juga dengan sebutan Ibnu Sa‘ud memproklamasikan berdirinya Kerajaan Arab Saudi dengan paham keagamaannya yang anti terhadap prosesi peringatan tersebut.

Namun, sebagian penduduk kota Makkah tetap saja merayakan peringatan maulid Nabi Saw. walau tanpa prosesi yang meriah seperti dulu dan dilakukan dari rumah ke rumah. Dalam memperingatinya, mereka berpegang kepada pendapat para alim ulama, terutama ulama Makkah yang disegani penguasa Arab Saudi, Dr. Al-Sayyid Muhammad bin Alawi Abbas Al-Maliki yang yang mengarang kitab berjudul Al-Nazm al-Badi` fi Maulid Al-Haadi Al-Syaafi`.

Sejarah Maulid Nabi di Makkah

19.48 1

Peringatan Hari Kelahiran Nabi saw. di Mekah Menurut Para Sejarawan Muslim, dan Peringatan Tempat Kelahiran Nabi saw. Kota Mekah, ibu semua kota (Ummul Qura) , semoga Allah swt memberkatinya, adalah pemimpin semua kota lain di seluruh dunia Islam dalam merayakan maulid, juga dalam hal-hal lain.

Seorang sejarawan Mekah abad ketiga, al-Azraqî, menyebutkan bahwa rumah tempat Nabi saw.dilahirkan termasuk tempat di Mekah yang mustahabb (dianggap baik) untuk melaksanakan salat. Menurutnya, rumah tersebut pada masa lalu pernah dijadikan masjid oleh ibu dari dua khalifah, yaitu Mûsâ al-Hâdî dan Hârûn al-Rasyîd.

Ulama Alquran, al-Naqqâsy (266-351) menyebutkan bahwa tempat kelahiran  Nabi saw. merupakan tempat di mana doa pada siang hari setiap Senin  akan dikabulkan.

Catatan Pertama tentang Perayaan Maulid

Sumber tertua yang menyebutkan peringatan maulid secara publik adalah  karya Ibn Jubayr (540-614), Rihal: Tempat yang diberkati ini (yaitu  rumah Nabi saw.) dibuka, semua orang kemudian memasukinya untuk mendapatkan barakah darinya, pada setiap hari Senin bulan Rabiul Awal;  karena pada hari dan bulan itulah Nabi saw. dilahirkan.

Sejarawan abad ketujuh, yaitu Abû al-'Abbâs al-Azafî dan putranya Abû al-Qâsim al-Azafî menulis hal berikut: Jamaah haji yang saleh dan para  pelancong  terkemuka memberikan kesaksian bahwa, pada hari maulid, di Mekah tidak ada kegiatan yang dilakukan, tidak ada yang diperjual-belikan, selain  kesibukan orang-orang yang mengunjungi tempat kelahiran Yang Mulia, dan bersegera memasukinya. Pada hari itu Kabah dibuka dan dapat dimasuki.

Catatan Ibn Bathûthah tentang Maulid

Sejarawan kesohor abad kedelapan, Ibn Bathûthah, menceritakan bahwa pada setiap hari Jumat setelah salat, dan pada hari kelahiran Nabisaw., pintu Kabahdibuka oleh Ketua Bani Syaybah, pemegang kunci Kabah. Mengenai maulid,ia menceritakan bahwa kepala qadi Mekah (dari mazhab Syafii), Najm al-Dîn Muhammad ibn al-Imâm Muhy al-Dîn al-Thabarî, membagi-bagikan makanan kepada para syurafâ' (keturunan Nabi saw.) dan semua orang  Mekah yang lain.

Catatan tentang Maulid pada Abad Ketiga

Gambaran berikut menggabungkan berbagai catatan kesaksian para toko abad ketiga, yaitu sejarawan Ibn Zahira al-Hanafî, Imam Ibn Hajar al Haytsamî dasejarawan al-Nahrawalî Setiap tahun pada tanggal 12 Rabiul Awal, setelah melaksanakan sala magrib, keempat qadi Mekah (masing-masing mewakili mazhab yang empat dan  kelompok-kelompok besar masyarakat, termasuk fukaha dan tokoh-tokoh kota Mekah, para syekh, guru-guru zawiyah dan para santrinya, kepala pemerintahan, dan para ilmuwan (muta'ammamîn, arti literalnya: 'orang- orang yang diberi turban') meninggalkan masjid dan berangkat bersama- sama mengunjungi tempat kelahiran Nabi saw. sambil melantunkan zikir dan tahlil (lâ ilâha illâ Allâh). Rumah-rumah di sepanjang jalur perjalanan diterangi dengan lampu-lampu dan lilin-lilin besar.

Sebagian besar orang berhamburan. Mereka mengenakan pakaian spesial dan membawa anak-anak bersama mereka. Setelah tiba di tempat kelahiran, disampaikanlah suatu khotbah khusus untuk memperingati kelahiran Nabi saw., yang menguraikan berbagai keajaiban yang terjadi pada hari peristiwa tersebut. Setelah itu dibacakanlah doa untuk Khalifah, Amir Mekah, dan Qadi Syafii, dan semuanya berdoa dengan kerendahan hati. Sesaat sebelum salat isya dilaksanakan, seluruh orang balik dari tempat kelahiran Nabi saw. ke Masjidil Haram, yang sudah hampir penuh sesak, dan semua duduk bersaf- saf di bawah Maqam Ibrahim. Di masjid, seorang pengkhotbah pertama- tama membacakan tahmid (alhamdulillah) dan tahlil, dan sekali lagi doa untuk Khalifah, Amir Mekah, dan Qadi Syafii dibacakan.Setelah itu, azan untuk salat isya dikumandangkan. Setelah salat, kerumunan itu pun bubar.

Maulid di Negara-Negara Islam Sekarang Di setiap negeri muslim sekarang ini, selalu ada masyarakat yang memperingati hari kelahiran Nabi saw. Ini terjadi di Mesir, Syria, Lebanon, Yordania, Palestina, Irak, Kuwait, Uni Emirat Arab, Saudi Arabia,25 Sudan, Yaman, Libia, Tunisia, Aljazair, Maroko, Mauritania, Jibouti, Somalia, Turki, Pakistan, India, Srilangka, Iran, Afghanistan, Azerbaijan, Uzbekistan, Turkestan, Bosnia, Indonesia, Malaysia, Brunei, Singapura, dan banyak negeri Islam lainnya.

Di kebanyakan negara Arab, hari itu merupakan hari libur nasional. Sementara negeri-negeri ini memperingati peristiwa tersebut, sungguhlah ganjil bila sekarang muncul sekelompok kecil yang lantang menyuarakan bahwa perayaan tersebut haram. Siapakah ulama-ulama yang menentang maulid ini, yang artinya sama saja menantang para tokoh hadis (huffâzh) dan para ulama umat seperti Abû Syâmah, al-'Asqalânî, al-Suyûthî, al-Sakhâwî, al- Haytsamî, dan al-Qârî, yang telah menyatakan secara terbuka bahwa memperingati maulid adalah perbuatan baik?

Bagaimana mungkin sebagian pengikut Salafi itu mengutuk sesuatu yang bahkan ulama dari kalangan mereka yang paling keras pun, yaitu Ibn Taymiyyah, membolehkannya dengan persyaratan- persyaratan tertentu, dan sesuatu yang dianjurkan oleh Ibn al-Jawzî dan Ibn Katsîr, yang menulis buku kecil khusus yang diberi judul Mawlid, yang berisi syair-syair dan kupasan kehidupan Nabi saw.?