Masjidil Haram..
Masjid paling mulia di muka bumi…
Aku kembali kehilangan kata-kata untuk menjelaskan betapa bergemuruhnya dada ini saat memandang bangunan masjid dihadapan. Begitu pula dengan yang lain, karena hampir semua anggota rombongan tak ada yang berkata-kata kecuali ustad yang terus memberi bimbingan. Walaupun ini bukan kali pertama aku memandangnya, tetap saja aku tidak bisa menjelaskan dengan baik apa yang dirasakan saat kembali melihat masjidil Haram.
Beserta seluruh rombongan kami melangkah memasuki gerbang satu yang diberi nama gerbang King Abdul Aziz. Saat didalam aku sudah tidak sempat memperhatikan sekeliling lagi, aku terlalu berdebar saat memasuki masjid.
Ketika pintu masuk terlewati dan berjalan beberapa langkah di dalam masjid. Tampaklah dihadapan kami semua, bangunan berbentuk kubus, yang diselimuti oleh kain sutera hitam.
Suatu bangunan yang dibangun oleh Nabi Ibrahim bersama puteranya Nabi Ismail. Suatu bangunan yang menjadi “rumah” paling tua di muka bumi ini. Suatu bangunan yang memiliki enam sisi sehingga seolah menghadap ke segala arah, utara, selatan, timur, barat, atas dan bawah. Suatu bangunan yang tiada apapun didalamnya, hanya ada kekosongan.
Itulah Kabah.
Kita memang tidak menyembah kabah, tidak menyembah batu hitam, tidak menyembah bangunan, Kabah hanyalah arah, Kabah hanyalah petunjuk.
Kabah saat ini berada di hadapanku.
Mataku melihat pemandangan yang menakjubkan. Seolah suatu pertunjukan tentang bagaimana alam semesta bekerja. Sebagai pusat, di sekeliling kabah penuh dengan orang yang bertawaf. Berputar berlawanan dengan arah jarum jam. Bergelombang bagai pusaran air, teratur bagai orbit benda-benda angkasa pada matahari.
Inilah pertunjukan semesta!
Karena ternyata tawaf, atau gerakan berputar mengelilingi satu pusat ini juga dilakukan oleh semua mahluk, semua materi, segala hal penghuni alam semesta ini. Dari atom yang terkecil, hingga galaksi yang begitu luas. Semua terbukti melakukan tawaf, bergerak mengelilingi suatu inti.
Disini aku menyaksikan suatu pesan mengenai tauhid yang sangat jelas dari Sang Maha Pencipta, bahwa hanya ada satu pusat, hanya ada satu Tuhan, hanya ada satu Yang Maha Segalanya. Sementara yang lain hanyalah mahluk, hanyalah hamba, hanyalah ciptaan, hanyalah partikel-partikel yang terus bergerak mengelilingiNYA.
Malam itu, kami melaksanakan umrah.
Melebur bersama yang lain dalam kebersamaan. Tak ada lagi perbedaan warna kulit, jabatan, suku, golongan dan budaya. Semua menjadi satu dalam harmonisasi tawaf, semua menjadi satu dan berputar bersama mengelilingi pusat yang satu, semua menjadi satu dalam gelora cinta yang sama.
Allah adalah pusat segala hal, Allah adalah cinta yang satu, Allah adalah segalanya. Hatiku lirih berbisik -Terima kasih ya Allah, telah mengundang kami semua, dan mengijinkan kami melakukan thawaf bersama semesta-
Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadah) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia. -(QS. Ali Imran:96)
Menuju Maha Cinta

EmoticonEmoticon